Ditulis oleh :
Lukman Hakim
Kepala SMK Muh 1 SMG dan Sekretaris MPI PWM Jateng.
Takbiran night in Indonesia is not just the echo of takbir, but a sea of joy that unites hearts in harmony of culture and faith.”
“Malam takbiran di Indonesia bukan sekadar gema takbir, tapi juga lautan kebahagiaan yang menyatukan hati dalam harmoni budaya dan iman.”

Malam takbiran adalah malam penuh kebahagiaan dan kemenangan, sebuah tanda bahwa hari raya telah tiba, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Di Indonesia, malam takbiran memiliki nuansa yang unik, berbeda dari negara-negara lain, bahkan dari pusatnya Islam di Arab Saudi. Kemeriahan ini menjadi keasyikan tersendiri bagi masyarakat Muslim, baik di kota maupun di desa.
Takbir keliling menjadi salah satu fenomena yang selalu dinanti. Masyarakat beramai-ramai menggelar pawai dengan iringan suara takbir yang menggema dari perangkat sound system yang menggelegar, atau yang oleh warga Demak disebut “Horeg”. Tidak hanya itu, kreativitas masyarakat pun tampak dalam arak-arakan patung berukuran besar yang menggambarkan manusia, hewan, hingga miniatur masjid yang dihiasi lampu warna-warni. Kemeriahan ini melibatkan semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, dari remaja hingga dewasa, semua larut dalam euforia kemenangan.
Meski sempat dilarang di beberapa daerah dengan alasan ketertiban umum, kini takbir keliling kembali diperbolehkan, membawa kembali kesan mendalam bagi masyarakat. Malam lebaran menjadi lebih istimewa, lebih dari sekadar pergantian hari, tetapi juga momen kebersamaan dan kegembiraan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Selain takbir keliling, ada juga tradisi begadang di musholla dan masjid. Kumandang takbir, tahlil, dan tahmid bergema sepanjang malam melalui pengeras suara. Meski sebagian masyarakat non-Muslim mungkin merasa terganggu dengan kebisingannya, banyak dari mereka juga memahami dan bahkan ikut merasakan keberkahan Idul Fitri. Hal ini tercermin dalam budaya konsumsi yang meningkat, dari pakaian baru hingga hidangan khas lebaran yang juga dinikmati oleh masyarakat luas.
Yang menarik, kemeriahan malam takbiran seperti ini tidak ditemukan di banyak negara Muslim lain. Bahkan di Arab Saudi, takbiran lebih bersifat ibadah syariah semata, tanpa unsur budaya yang mengiringinya. Inilah keunikan Islam di Indonesia: dakwah yang berbaur dengan budaya, sehingga menciptakan suasana religius yang akrab dan menyenangkan. Seperti yang disampaikan oleh Dr. KH Tafsir, M.Ag, Ketua PWM Jawa Tengah, bahwa tanpa unsur budaya, sulit bagi sebuah organisasi Islam untuk berkembang dan memiliki pengaruh besar di masyarakat. Muhammadiyah sendiri memasukkan unsur budaya dalam proses dakwahnya melalui LSBO (Lembaga Seni Budaya dan Olahraga) untuk menjadikan Islam lebih membumi di hati umat.
Local wisdom kaum Muslim di Indonesia dalam mengemas ibadah dengan balutan budaya telah menciptakan pengalaman spiritual yang unik dan mengesankan. Tak heran jika diaspora Indonesia di luar negeri selalu merindukan momen ini, momen di mana takbir menggema bukan hanya di masjid-masjid, tetapi juga di jalanan, di hati, dan dalam kebersamaan seluruh umat.
“Takbiran night in Indonesia is proof that joy can be celebrated through dhikr, lights, and the spirit of brotherhood.”
(“Malam takbiran di Indonesia adalah bukti bahwa kebahagiaan bisa dirayakan dalam dzikir, cahaya, dan semangat persaudaraan.”)
Salam kemenangan!
Minal Aidin wal Faizin!