
Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari kedua di SMK Muhammadiyah 1 Semarang berlangsung dengan warna berbeda. Jika hari pertama diisi dengan upacara dan pemaparan Wiyata mandala, hari kedua ini para murid baru diajak menyelami dunia yang setiap hari mereka genggam di tangan yaitu media sosial.
Materi yang disampaikan di aula baru lantai 3 bertema sopan santun dalam bermedia sosial. Dipaparkan langsung oleh Agung Setia Bakti, M.Si, yang merupakan Koordinator Bidang Media Sosial di Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kota Semarang.
Materi ini dihadirkan bukan tanpa alasan. Di era digital saat ini, fenomena cyber bullying menjadi salah satu persoalan yang kian marak dialami oleh anak-anak dan remaja. Melalui materi sopan santun bermedia sosial ini, diharapkan para murid baru dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial, baik dalam bersikap, berkomentar, maupun dalam menyikapi konten yang mereka konsumsi sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Agung mengajak para siswa untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif di media sosial, melainkan memahami bagaimana sebenarnya mekanisme di balik layar bekerja. Ia menjelaskan bahwa berbagai konten yang tersaji di media sosial dirancang untuk memicu respons emosional yang beragam pada penggunanya.
Konten yang memantik kemarahan atau ketakutan yang berlebihan, misalnya, cenderung memancing lonjakan interaksi berupa perdebatan dan komentar. Semakin ramai interaksi tersebut, semakin viral pula konten itu tersebar dan pada akhirnya, viralitas ini menjelma menjadi keuntungan finansial bagi platform media sosial itu sendiri.
Penjelasan ini disambut antusias oleh peserta MPLS yang tampak baru menyadari bahwa aktivitas bermedia sosial yang selama ini terasa sederhana, ternyata menyimpan mekanisme yang kompleks di baliknya.
Di akhir sesi, Agung menitipkan pesan yang cukup menohok sekaligus reflektif bagi para siswa: “Kendalikan teknologinya, atau algoritma yang akan mengendalikan masa depanmu” ujarnya.
Kalimat ini menjadi pengingat bahwa siswa harus menjadi pengguna yang aktif mengendalikan diri, bukan sekadar objek yang dikendalikan oleh sistem algoritma media sosial. Kesadaran ini penting agar generasi muda tidak terjebak dalam pola konsumsi konten yang justru merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata keseriusan SMK Muhammadiyah 1 Semarang dalam membentuk karakter muridnya secara utuh, tidak hanya dalam kehidupan nyata, tetapi juga dalam ruang digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.
Dengan bekal pemahaman ini, diharapkan para siswa baru SMK Muhammadiyah 1 Semarang dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas bermedia sosial, mampu memilah informasi, serta menjadi pengendali teknologi.