Dalam kehidupan banyak manusia berlomba lomba untuk bisa hi hidup dengan Kerja. Tapi kadang lupa akan Usaha. Masa era sekarang Dunia. Kerja banyak peluang, tapi manusia tidak boleh mengeluh. Justru dengan mau mulai dari yang kecil ada usaha walau gagal tidak mengeluh tapi kita terus maju. Belajar dari salah adalah Tip kata kunci daripada orang yang sukses. Kata Yusuf Al Qardhawi, kalau kita mau sukses berhasil dalam karir, mau dapat uang. Ya kita harus bergerak, keluar. Maka insyaallah Uang akan datang dengan sendirinya
Dibawah ini ada Hadist tentang Berikhtiar dan penjelasannya. Silakan disimak.
ONE DAY ONE HADITS
قَالَ عَمْرُو بْنِ أُمَيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَّ اللَّةِ ! أُقَيّدُ رَاحِلَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ، أَوْأُرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ : قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ
“Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. (HR. Ibnu Hibban 731, juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :
- Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepada shahabat tersebut agar mengikatkan ontanya (sebagai bagian dari usaha).
- Memberikan pemahaman kepadanya bahwa tawakkal tidak berarti meninggalkan perkara ikhtiar.
- Memerintahkan supaya dia mengaitkan ikhtiar seraya bertawakal kepada Allah Ta’ala.
- Hadits ini menjelaskan agar seorang hamba berusaha, ikhtiar, meraih atau mencari asbab, baru kemudian tawakkal (menyerahkan urusan kepada Allah Ta’ala).
- Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam juga memakai baju besi dan membuat strategi saat perang, memerintahkan bekerja untuk mencari nafkah, memerintahkan menjauhi wabah penyakit, memerintahkan berobat saat sakit, dan lain sebagainya. Tidak hanya memerintahkan cukup doa saja, atau cukup tawakkal saja, atau menanti keajaiban saja.
- Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha (ikhtiar). Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia (Allah) semata.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran :
- Bulatkan tekad dengan melakukan sesuatu, baru kemudian bertawakal. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (QS. Ali ‘Imran : 159)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas :
أي إذا شاورتهم في الأمر وعزمت عليه فتوكل على الله فيه إن الله يحب المتوكلين
Yaitu jika engkau sudah musyawarah dengan mereka dalam sebuah urusan (ikhtiar) dan telah bertekad atas urusan itu, maka (kemudian) bertawakal lah kepada Allah, karena Allah cinta orang-orang yang bertawakal. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/132)
- Setelah melakukan tindakan dan usaha, maka bertawakal adalah jalan terbaik. Karena tawakal akan mendatangkan pertolongan Allah atas setiap langkah yang kita lakukan. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. Ath-Thalaq : 3)
Penulis – Dr.Duwi Miyanto,M.Pd.I